Twitter Updates

    follow me on Twitter

    Sunday, October 28, 2007

    Disini saya masukkan artikel sahabat saya Saudara Mukhlis yang merupakan
    Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Malaya (PPI-UM) dan juga
    Mahasiswa Master Akademi Pengajian Islam, Syari’ah Dan Ekonomi.

    Sipnosis : Di Indonesia Mahasiswa Takut Dengan Dosen,Dosen Takut Dengan Dekan, Dekan Takut Dengan Rektor, Rektorr Takut Dengan Mentri , Mentri Takut Dengan Presiden , Presiden Takut Dengan Mahasiswa

    Mahasiswa Beridealisma Masa Depan Negara.

    Gerakan Mahasiswa Dan Kebangkitan Gerakan Sosial

    A.Gerakan Mahasiswa dan Gerakan Sosial Baru.

    Industriliasasi yang diringi dengan munculnya kelompok menengah dikawasan Asia Tenggara telah melahirkan optimisma baru tentang lahirnya civil society (masyarakat madani) Jika diletakkan dalam kerangka modernisasi dan industrialisasi , masyarakat juga mengalami masa dinamika transisi . Jika didataran Eropa dan Amerika ada konvergensi antara dinamika masyarakat transisi dan perkembangan modenitas serta industrialisasi dikawasan Asia Tenggara yang terjadi adalah tidak kesimbangan antara perkembangan wacana budaya dan tuntutan industri serta perkembangan teknologi.

    Sebenarnya perubahan yang terjadi dalam masyarakat biasa dipilah dalam tiga dimensi perubahan social, iaitu dimensi perubahan sruktural , culture dan interaksional

    Dalam memahami arah perkembangan politik Indonesia ,telah terjadi suatu sakralisasi terhadap idiologi dan politik sebagai sesuatu yang tidak boleh dipersoalkan lagi. Masyarakat berada dalam sebuah tatanan (keadaan) yang bisu kerana tidak diperkenankan melakukan diskusi dan pengembangan wacana seputar idiologi dan politik. Kerana itu , dipakailah konsep massa mengambang sebagai pelengkap(objek) dari pengenalan pembangunan yang bertumpu proses modenisasi .Dengan demikian Negara telah memainkan peranannya untuk memonopoli kebenaran (monopoly of truth)

    Dengan dasar kehidupan Negara dan masyarakat yang timpang seperti ini , perkembangan dibidang teknologi dan ekonomi mengakibatkan tercabutnya masyarakat dari akarnya .Pada kondisi seperti ini ,umumnya masyarakat memiliki empat pola dalam berfikir iaitu: a.Tumbuhnya Reifikasi b. Manipulasi, c. Fragmentasi dan d . Individualisasi.

    Reifikasi adalah merupakan suatu anggapan bahawa segala sesuatu harus boleh diwujudkan dalam bentuk lahiriyah dan boleh diukur secara kuantatif. Kepuasan baru timbul apabila orang dihadapkan para barang material, angka, statistic , tingkah laku lahiriyah, rupa, suara ,ucapan dan lain-lainnya. Gejala reifikasi ini dalam perkembangannya akan melahirkan bentuk-bentuk materialisma (pengenalan hanya pada benda) dan legalisma , formalisma dan ritualisma

    Manifulatif, adalah suatu yang am dalam dunia moden . Kemajuan teknologi dan keperluan manusia yang semakin berbeza menimbulkan berbagai bentuk manipulasi keinginan manusia yang bertumpu pada kepuasan keperluan manusia yang tidak ada batasnya. Pola hidup komsumtif dan Hedonis adalah sesuatu yang sangat berhubungankait dengan fungsi manifulatif dari media massa dan teknologi.

    Fragmentasi terjadi ketika dalam suatu masyarakat terjadi suatu sistem pembagian kerja yang sangat terspesialisasi sehingga manusia menjadi menyatu dengan identiti sempitnya dan ,meninggalkan identiti sosialnya. Impaknya , manusia hanya dianggap sebagai kumpulan manusia dengan kotak-kotak jabatan, kedudukan, keahlian tidak memperibadi atau impresional . Dibalik penghargaan yang terlalu berlebihan terhadap profesi , keahlian dan jabatan, martabat manusia yang seharusnya mendasari penghargaan itu semakin ditinggalkan.

    Individualisasi terjadi manakala manusia merenggangkan ikatan dirinya dengan masyarakatnya.Peranan individu menjadi dominant (menonjol) dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini mendorong tumbuhnya sikap individualisma dan egoisma yang tidak sihat. Individualisma mempunyai kepercayaan terhadap kemampuan dirinya dalam berprestasi dan berinisiatif menyebabkan hidupnya hanya mementingkan diri nya sendiri tidak peka (tanggap) terhadap nilai-nilai kemanusiaan condong bertindak serakah dan destruktif.

    B.Demokratisasi dan Gerakan Mahasiswa

    1.PerjalananPergerakan Mahasiswa

    Istilah gerakan mahasiswa menjadi sangat popular setelah terjadi sebuah fenomena momentul ditahun 1998 . Meskpun pada masa sebelumnya gerakan mahasiswa juga pernah aktif mempelopori perubahan pada tahun 1965, Keberkesan yang timbul menjadi sangat berbeza. Ada sebuah konteks yang secara signifikan (yang mendasar) membezakan gerakan mahasiswa di masa 1960-an dengan yang terjadi di masa 1990-an. Dalam bingkai sejarah, gerakan mahasiswa pernah menjadi sebahagian gerakan pemuda Indonesia. Mahasiswa pernah menjadi salah satu bagian dari gerakan pemuda sebagaimana dilukiskan sebagai sosok yang paling dinamis ini, posisi pemuda yang didalamnya termasuk mahasiswa, tidak boleh dipisahkan dengan perjuangan bangsa, sejak terjadinya kebangkitan pemuda 1908 Pemuda adalah pelopor (penggerak) pada zamannya. Pada masa kebangkitan Nasional pemuda adalah bahagian dari pendobrak cara pandang kegelapan dengan cara mengadopsi cara fikir “auflklarasi” dalam dunia moden.

    Posisi pemuda dan mahasiswa pasca 1908 adalah timbulnya generasi gerakan ditahun 1966 yang diyakini dan menjatuhkan Rezim Orde Lama (ORLA) dan menggantikannya den Rezim Orde Baru (ORBA). Kemudain gerakan mahasiswa angkatan 78 muncul sebagai kekuatan yang menolak usaha- usaha di politisisasi dengan lahirnya NKK( Normalisasi Kehidupan Kampus ) BKK (Badan Koordinasi Kampus).Dengan melalui SK Pangkopkamtib N0: SKEP-02/KOKAM/I/1978 melakukan pembekuan kegiatan Dewan Mahasiswa Universitas/ Perguruan Tinggi /Institut seluruh Indonesia. Juga di perkuat lagi SK Mendikbud N0. 0156/U/ Tentang 19 April 78 . Sementara itu angkatan 1980-an muncul generasi gerakan yang kritis dengan mengembangkan wacana-wacana yang berbeza dengan yang dikembangkan Negara.Generasi 80-an ini tidak memunculkan gerakan masif, tetapi intensif dalam kelompok- kelompok diskusi dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bekerja langsung dengan masyarakat.

    Berkaitan dengan kesukseskan mahasiswa pada angkatan 98 ini , disedari oleh banyak pihak bahawa keberhasilannya tidak pernah terwujud jika tidak disokong oleh elemen-elemen lainnya yang bersama-sama melakukan perubahan. Ertinya dalam kata lain ada sebuah kematangan structural yang mengakibatkan posisi gerakan mahasiswa menjadi penting dan berhasil melakukan perubahan .

    Munculnya gerakan mahasiswa yang telah berhasil melakukan perombakan dan perubahan sangat memungkinkan dengan adanya kondisi yang semakin hari semakin parah, sehingga masyarakat berada pada titik paling parah dan sudah tidak memiliki pilihan lain kecuali harus bangkit dan melakukan perlawanan demi suatu perubahan. Gerakan tersebut sebenarnya adalah ungkapan Idealisma mereka akan suatu fakta sejarah masyarakat yang dihadapinya, sehingga terbit suatu bentuk kolektivitasma yang kuat dan mengakar dalam semangat untuk melakukan perubahan

    Pertanya ktritis terhadap predikat gerakan mahasiswa ini muncul kerana unsure inti gerakan dari gerakan mahasiswa anggkatan 98 sudah bahagian gerakan semesta rakyat Indonesia . Ertinya bangunan pradigma yang dipasangi oleh para tokoh inti gerakan mahasiswa cara pandang yang tidak lagi memisahkan mahasiswa dari rakyat, sebagaimana rezim Orde Baru berkuasa sengaja diciptakan jarak yang sangat jauh.

    Gerakan mahasiswa angkatan 98 yang lahir dan generasi angkatan 80 telah akrab dengan rakyat sebagai basis pengorganisasian mereka. Pertama kelompok-kelompok studi yang tumbuh subur di masa 1980-an adalah bahagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses penyatuan gerakan mahasiswa dengan gerakan rakyat. Dalam kelompok-kelompok studi inilah wacana-wacana yang menantang arus pemberangusan oleh rezim odre baru dibangun dan ditanamkan serta di sosialisasikan baik ditahap mahasiswa mahupun tahap gerakan rakyat pada ammya.

    Wacana homogeni tandingan (counter hegemony). Inilah yang membangkitkan kesadaran diantara massa mahasiswa dan massa rakyat pada umumnya dalam melakukan perlawanan terhadap rezim otoriter orde baru.

    Dengan demikian muncul terminologi yang semakin berkembang antara gerakan mahasiswa ,gerakan pemuda dan gerakan rakyat . terminologi terakhir ini muncul dan actual fenomena gerakan angkatan 98. Dan inilah cirri khas yang membezakan gerakan98 dengan angkatan sebelumnya

    2. Reformasi Mei 1998

    Reformasi Mei 1998, terutama setelah turunnya Soeharto dari kekuasaan otoriternya membawa impak yang menyebabkan nuansa ketidakpastian. Jika masa sebelumnya mahasiswa memiliki satu visi untuk menurunkan Soeharto, setelah itu justeru muncul berbagai cara pandang yang memunculkan tipologi perbezaan dari masing-masing kelompok kesatuan aksi .

    Gerakan mahasiswa sedang mengalami metamorfosa dari yang dulu sangat lekat dengan kendali Negara menjadi suatu yang bebas tanpa aturan . Impak negatifnya adalah bahawa semua pelbagai idiologi dan kepentingan menjadi bebas melakukan intervensi baru yang sedang dibangun oleh gerakan mahasiswa yang hingga , setelah robohnya Soeharto belum jelas benar bentuknya seperti apa

    Pelbagai identiti gerakan ini tidak boleh dilepaskan dari organ gerakan yang berhasil dibangun sebagai alat pengorganisasian massa. Sewaktu gerakan reformasi mulai menampakkan sosoknya dipermukaan. Muncullah kelompok-kelompok seperti, KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia ) HAMMAS ( Himpunan Aksi Mahasiswa Muslim Antar Kampus) HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam) ada juga mahasiswa yang bernamakan FORKOT (Forum Kota) FAMRED (Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Democraty ) Selain itu masih ada elemen yang bernama LMND (Liga Mahasiswa Nasional Democraty) FORBES ( Forum Bersama) masih banyak yang lain.

    Momentum krisis yang dirasakan semakin menekan kehidupan rakyat menjadi salah satu factor sangat signifikan (mendasar) yang meradikalisasi massa mahasiswa . Pada bulan Februari 1998 jumlah aksi demonstrasi mahasiswa menunjukan intensitas yang meningkat . Tercatat bahawa selama bulan Februari terjadi 49 aksi diseluruh Indonesia . Maret 1998 terjadi ledakan demonstrasi secara berterusan. Selama bulan Maret terjadi 247 aksi iaitu di Surabaya 35 aksi , Ujung Pandang 32 Aksi Bandung 28 aksi Yogyakarta 25 aksi Solo 29 aksi malang 17 aksi dan Semarang 16 aksi selain itu juga terjadi dikota-kota kecil seperti Tegal, ,Unggaran , Wonosobo , Saltiga , Jombang dan Jember

    3.Gerakan Mahasiswa Masa Depan

    Pada titik ini gerakan mahasiswa berada pada sebuah kekosongan kewujudannya.Setelah mengalam masa-masa perjuangan yang luas. Secara dratis ada kecondongan yang terus menurun. Dilihat dari impak yang dihasilkan. Kewujudan mahasiswa dapat dikatakan kehilangan jatidirinya . Namun dilihat dari konteksnya gerakan mahasiswa memang tengah berada pada setuasi yang tidak menguntungkan dengan adanya perubahan secara eksternal mahupun pergeseran yang bersifat internal.

    Jika pada tahun 1998-1999 kewujudannya gerakan mahasiswa pada puncaknya memang kerana kondisi objektif tengah menyeret nya pada puncak kewujudannya. Ada sebuah tantangan objektif yang yang maha besar, sehingga pelbagai kontradiksi yang bersifat mikro dan internal menjadi terkuras pada titik yang terendah . Baru pada saat tantangan objektifnya mulai menyurut yang mencapai klimaksnya (punca) pada saat turunya Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya

    MEMPERTEGAS PERAN DAN FUNGSI MAHASISWA

    MAHASISWA selalu menjadi bahagian dari perjalanan sebuah bangsa. Roda sejarah demokrasi selalu menyertakan mahasiswa sebagai pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan. Hal tersebut telah terjadi di pelbagai negara di dunia, baik di Timur mahupun di Barat.

    Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realiti sosial yang terjadi dimasyarakat. Sikap idealisma mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara mereka sendiri.

    Misalnya, sekelompok mahasiswa di Cirebon melakukan aksi unjuk rasa menolak kenaikan tarif air PDAM. Aksi tersebut merupakan contoh kecil dari cara penyampaian sikap gelisah yang dirasakan rakyat bawah. Bagi sebagian orang, issu kenaikan tarif air PDAM di daerah, mungkin dianggap tidak begitu penting dibandingkan dengan isu nasional lainnya.

    Namun bagi mahasiswa, setiap peristiwa dapat menjadi isu penting, karena mahasiswa memiliki sikap yang khas dalam memandang persoalan di sekitarnya. Sikap kritis yang dimiliki mahasiswa seringkali memiliki paralelisma dengan kondisi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

    Mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Runtuhnya Orde Lama dan lahirnya Orde Baru tidak terlepas dari peran mahasiswa. Orde baru lahir dari sebuah harapan untuk perbaikan kehidupan politik, ekonomi, dan sosial. Namun, pelbagai pergerakan mahasiswa tetap menghiasi dan mewarnai cakrawala kehidupan berbangsa dan bernegara selama 32 tahun Orde Baru berkuasa.

    Ketidakpuasan mahasiswa terhadap moraliti penguasa politik pada saat Orde Baru, telah timbul pelbagai pergerakan melawan tembok kekuasaan yang sangat kuat. Sikap represif para penguasa Orde Baru menyebabkan banyak mahasiswa yang ditangkap, tindakan seperti ini seakan mengaborsi lahirnya pemikiran-pemikiran kritis mahasiswa ketika itu.

    Titik kulminasi pergerakan mahasiswa pada saat orde baru terjadi tahun 1998. Kontradiksi politik dan sosial selama Orde Baru telah menyulut gelombang perlawanan mahasiswa secara frontal. Di samping itu, hantaman kuat krisis ekonomi yang dialami bangsa Indonesia pada saat itu, telah membuat semua pihak menaruh mosi tidak percaya atas polisi penguasa.

    Idealisma mahasiswa yang terkubur selama 32 tahun telah mengalami kebangkitan pada bulan Mei 1998, yang ditandai oleh runtuhnya rezim Orde Baru. Pelbagai peristiwa tersebut membuktikan betapa mahasiswa telah menjadi bahagian yang tidak terpisahkan dari sejarah bangsa.

    Setelah reformasi digulirkan dan dijalankan oleh mahasiswa, Indonesia mendapatkan angin segar dalam pemerintahan. Kepemimpinan negara bergilir silih berganti, dari mulai B.J. Habibie hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Masing-masing penguasa tentu saja telah, dan sedang memberikan yang terbaik bagi rakyatnya, namun dalam setiap periode pemerintahan tersebut sering kali terdengar suara-suara miring.

    Pemerintahan tersebut seakan lupa terhadap agenda-agenda reformasi yang dibuat tahun 1998. Pemerintah secara doktrinal-dogmatis memiliki otoriti untuk melakukan pembenaran terhadap polisi yang diambilnya pada saat itu. Melihat fenomena tersebut, timbul tanda tanya besar apakah Orde Baru benar-benar telah runtuh

    Pengontrol Reformasi

    Peran dan fungsi mahasiswa harus kembali dipertegas. Mahasiswa harus mampu mengawasi dan mengontrol reformasi secara utuh seperti saat mereka dan kelahirannya bulan Mei 1998. Pergerakan mahasiswa pada saat ini tampaknya memiliki perbezaan signifikan (mendasar) dengan mahasiswa tahun 1998, yang mempunyai keseragaman visi,iaitu reformasi.

    Keadaan tersebut tidak terlihat lagi pada masa kini, mahasiswa memiliki agenda dan garis perjuangan yang berbeda dengan mahasiswa lainnya. Sekarang ini mahasiswa menghadapi pluralitas gerakan yang sangat besar. Meski begitu, setidaknya mahasiswa masih memiliki idealisma untuk memperjuangkan nasib rakyat di daerahnya masing-masing.

    Mahasiswa sudah telanjur dikenal masyarakat sebagai agent of change, agent of modernization, atau ajen-ajen yang lain. Hal ini memberikan akibat logis kepada mahasiswa untuk bertindak dan berbuat sesuai dengan gelar yang disandangnya. Mahasiswa harus tetap memiliki sikap kritis, dengan mencoba menelusuri permasalahan sampai ke akar-akarnya.

    Dengan adanya sikap kritis dalam diri mahasiswa diharapkan akan timbul sikap korektif terhadap kondisi yang sedang berjalan. Pemikiran prospektif ke arah masa depan harus bersandar dalam pola pikir setiap mahasiswa. Sebaliknya, pemikiran konservatif (kaku, mengikuti kebiasaan yang ada) pro-status quo harus dihindari.

    Mahasiswa harus menyedari, ada banyak hal di negara ini yang harus diluruskan dan diperbaiki. Keperdulian terhadap negara dan komitmen terhadap nasib bangsa di masa depan harus dierti oleh mahasiswa ke dalam hal-hal yang positif. Tidak boleh dimungkiri, mahasiswa sebagai social control terkadang juga kurang mengontrol dirinya sendiri. Sehingga mahasiswa harus menghindari tindakan dan sikap yang dapat merusak status yang disandangnya, termasuk sikap hedonis-materialis yang banyak menghinggapi mahasiswa.

    Perubahan yang cepat dalam realiti politik dan sosial di negara ini menuntut sikap taktis dan strategi dari semua pihak, termasuk mahasiswa. Sikap ini tidak harus melalui gerakan-gerakan frontal dan radikal yang berlebihan, mengingat sekarang ini banyak muncul pandangan atau perkataan sinis terhadap mahasiswa, seperti mereka dibayar atau mereka ditunggangi.

    Karena itu, kepeRdulian dan nasionalisma terhadap bangsa dapat pula ditunjukkan dengan keseriusan menimba ilmu di bangku kuliah. Mahasiswa dapat mengasah keahlian dan spesialisasi pada bidang ilmu yang mereka pelajari di perguruan tinggi, agar dapat meluruskan berbagai ketimpangan sosial ketika terjun di masyarakat nanti

    Peran dan fungsi mahasiswa dapat ditunjukkan secara santun tanpa mengurangi esensi dan agenda yang diperjuangkan. Semangat mengawal dan mengawasi jalannya reformasi, harus tetap tertanam dalam jiwa setiap mahasiswa. Sikap kritis harus tetap ada dalam diri mahasiswa, sebagai agen pengendali untuk mencegah berbagai penyelewengan yang terjadi terhadap perubahan yang telah mereka perjuangkan. Dengan begitu, mahasiswa tetap menebarkan bau harum keadilan sosial dan solidariti kerakyatan

    Kesimpulan

    Mahasiswa merupakan elemen masyarakat, pergerakan mahasiswa merupakan sebuah pergerakan objektif terhadap pemerintahan yang tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat secara menyeluruh . Dan juga mahasiswa merupakan sebagai masyarakat agent of change, agent of modernization. Tugas yang dipikul sebagai mahasiswa sangat berat dan itu merupakan tantangan untuk kebaikan dan perbaikan kedepan bagi bangsa dan Negara. Kehidupan kampus merupakan suatu alternative bagi mahasiswa boleh mengembangakan bakat dan minatnya kedepan . Justeru kerana itu mahasiswa adalah agen perubahan dan agen moden

    Setidaknya ada tiga tujuan yang dicapai mahasiswa dan social politik mahasiswa.Pertama tumbuhnya kebiasan dan tingkah laku demokratik yang dibangun dengan sikap mandiri dan konsisten , kebiasaan saling memberi dan menerima untuk mendapat kompromi dan kemampuan berkompromi berdasarkan analisis data. Kedua sasaran ini tumbuhnya kemampuan berorganisasi dalam kaitannya dengan masalah efektifitas kekuasaan , apapun level kekuasaan yang ditempati oleh seorang bekas mahasiswa.Ketiga adalah berkembangnya kemampuan mahasiswa untuk memahami kompleks permasalahan politik dan kemasyarakatan secara jernih , sehingga memungkinkan mereka membuat kebijaksanaan dan mengambil keputusan secara tepat dan demokratik dikemudian hari. Wassalam Selamat Berkarya dan Salam Jabat Erat Perjuangan

    Saturday, September 29, 2007

    MANIFESTO PRO MAHASISWA SEMPENA PILIHANRAYA KAMPUS 2007



    Universiti adalah medan terbaik untuk mengasah bakat dan menggilap potensi diri kepemimpinan mahasiswa secara terpimpin. Pilihanraya Kampus merupakan wadah ampuh untuk menjelma ia sebagai satu realiti. Paradigma yang di bentuk dalam kancah pilihanraya telah berjaya menjana jati diri mahasiswa yang sebenar dan pilihanraya dilihat sebagai platforo terbaik untuk membina kredibilti mahasiswa wibawa.

    Bersama membawa agenda perjuangan ke arah sebuah wawasan Universiti Melaya yang baru (New UM) di dalam mendukung idealisme mahasiswa berpaksikan prinsip kebenaran dan keadilan dan memperkasakan kualiti kecemerlangan akademik dan kebersamaan mahasiswa serta membela hak-hak mahasiswa di samping menaburkan khidmat bakti kepada universiti dan masyarakat.

    Oleh itu, dengan tekad yang jitu, kefahaman yang jelas, kesedaran yang mendalam terhadap matlamat dan peranan, berbekalkan kepada satu inspirasi senantiasa mendokong idealisma mahasiswa dengan ini , kami di peringkat mahasiswa akan sedaya upaya untuk:

    1. Memperkukuhkan kesatuan dan berpandukan mahasiswa/i di Universiti Malaya di bawah satu kefahaman dan satu tindakan bagi mencapai kecemerlangan mahasiswa.
    2. Mengembalikan kesinambungan perjuangan mahasiswa dengan membangkitkan kesedaran dan keprihatinan untuk berbakti kepada universiti, masyarakat dan Negara.
    3. Memperjuangkan aspirasi mahasiswa dengan mendukung prinsip kebebasan, kebenaran dan keadilan sebagai agenda utama.
    4. Memperjuangkan kebebasan akademik dan juga kualiti pengajian tinggi di Universiti Malaya setaraf dengan piawaian antarabangsa.
    5. Melaksanakan amanah kepada seluruh warga kampus dalam memastikan hak mereka sebagai mahasiswa dan pelanggan kepada universiti terpelihara dan dijaga.
    6. Menjana usaha bersepadu bersama pihak pengurusan universiti bagi meningkatkan kualiti kecemerlangan mahasiswa.

    CIRI-CIRI KEPIMPINAN DAN BUDAYA KERJA

    1. Amanah, telus dan bertanggungjawab
    2. Bervisi dan berwawasan
    3. Berilmu dan responsif
    4. Berani, benar dan berprinsip
    5. Berhemah dan berakhlak
    6. Dinamik dan beriltizam tinggi
    7. Pengurusan yang professional dan sistematik
    8. Kolektif dan mesra
    9. Independent dan interdependent

    ASPEK-ASPEK PERJUANGAN

    KEBAJIKAN MAHASISWA

    (a) Yuran Pengajian

    Menggesa pihak universiti mengkaji semula yuran pengajian dan yuran penginapan

    Menyarankan kepada pihak universiti meminta persetujuan pelajar untuk sebarang penolakan yuran tambahan dan menyediakan ruang pemilihan melalui sistem pemilihan online.

    (b) Mahasiswa istimewa

    Menyarankan kepada pihak universiti agar menyediakan perkhidmatan bas atau pengangkutan khas untuk kegunaan dan kemudahan kepada mahasiswa istimewa

    Mencadangkan kepada pihak Kementerian Pengajian Tinggi agar mengadakan kerjasama dengan pihak kerajaan untuk mewujudkan kuota kepada mahasiswa istimewa dalam bidang pekerjaan.

    Mencadangkan kepada pihak Kementerian Pengajian Tinggi agar mengadakan kerjasama dengan pihak kerajaan supaya menyediakan peruntukan yang lebih kepada golongan istimewa dalam RMK9 kepada mahasiswa istimewa.

    (c) Tabung STKP (Skim Tabung Kebajikan Pelajar

    Menggesa kepada pihak universiti agar memperluaskan promosi kepada seluruh mahasiswa kampus untuk memperjelaskan fungsi, faedah dan kaedah penggunaan tabung STKP melalui saluran informasi, kolej dan yang seumpamanya.

    Menggesa kepada pihak pentadbiran universiti agar memperkemaskan sistem tabung STKP agar dapat dioptimakan perkhidmatannya oleh seluruh mahasiswa.

    Menggesa kepada pihak universiti supaya mempertingkatkan kualiti perkhidmatan dalam menguruskan permohonan dan tuntutan daripada mahasiswa.

    (d) Pengangkutan

    Menggesa kepada pihak HEP agar mengkaji semula jadual perkhidmatan bas berdasarkan jadual akademik pelajar dan memperkemaskan semula jadual perjalanan shuttle bas supaya selari dengan waktu mahasiswa untuk ke kuliah.

    Menggesa kepada pihak HEP agar mengambil tindakan tegas kepada pemandu bas dalam menepati masa dan jadual perkhidmatan shuttle bas untuk mahasiswa.

    Menyarankan kepada pihak HEP meminta dan membenarkan bas Rapid KL masuk ke setiap kolej kediaman untuk kemudahan mahasiswa ke stesen Universiti dan keluar pada hari minggu.

    Mencadangkan kepada pihak universiti agar system kad bas dimansuhkan dengan memberi perkhidmatan percuma kepada pelajar.

    (e) Pinjaman kewangan Wang Malaysia

    Menggesa kepada pihak universiti agar selaku pihak yang terlibat secara langsung dengan pengurusan kewangan para pelajar untuk menetapkan suatu standard tempoh masa perkhidmatan dan pengurusan urusan kemasukan wang pinjaman pelajar.

    Menyarankan kepada pihak universiti agar menyediakan suatu saluran khas bagi rujukan para pelajar yang terlibat.

    Mencadangkan kepada pihak universiti agar menjadi agen infomasi (saluran maklumat) kepada pihak PTPTN tentang kondisi siswaza samada telah bekerja atau menggangur supaya mahasiswa tidak terdesak dan terbeban untuk membayar pinjaman.

    Mencadangkan kepada pihak pentadbiran khususnya di peringkat Bendahari Universiti Malaya untuk menyediakan penyata kewangan yang lebih terperinci bagi memudahkan penyemakan para pelajar.

    Mencadangkan kepada pihak PTPTN agar melaksanakan pinjaman tanpa faedah kepada para pelajar.

    (f) Kolej kediaman

    • Mendesak kepada pihak pentadbiran kolej kediaman agar mengutamakan keselesaan mahasiswa dan mengambil tindakan yang sewajarnya dengan segera.
    • Mendesak kepada pihak pentadbiran kolej dan universiti agar lebih prihatin dan serius berkenaan kebajikan mahasiswa di kolej seperti kemudahan asas seperti bekalan air, keselamatan, perkhidmatan fotostat&printing dan seumpamanya.
    • Menyarankan kepada pihak universiti agar harga makanan di cafeteria di semua kolej dan fakulti diselaraskan pada satu harga ditetapkan.
    • Menyarankan kepada pihak universiti agar meneruskan kembali perlaksanakan pilihan raya pemilihan JTK di kolej kediaman bagi memenuhi hak penghuni dan menjamin ketelusan dalam pemilihan pimpinan JTK.

    (g) Perubatan

    • Menyarankan kepada pihak universiti agar menempatkan kembali klinik kesihatan di tempat pemusatan pelajar, komplek perdanasiswa.
    • Menyarankan kepada pihak universiti menyagerakan proses meniktaraf infrastruktur klinik kesihatan(tapak asal di bakti siswa, komplek perdana siswa)
    • Menyarankan kepada pihak universiti agar menambahkan dilangan doctor dan kakitangan klinik kesihatan.
    • Mendesak kepada pihak klinik kesihatan agar bertindak dengan lebih prihatin dan mengamalkan sikap bertanggungjawab secara serius dalam mempastikan masalah kesihatan mahasiswa dan memberikan rawatan yang sewajarnya.
    • Mencadangkan kepada pihak universiti mewar-warkan kemudahan klinik pergigian dengan lebih meluas agar kemudahan yang sediaada benar-benar dimanfaatkan.
    • Menyarankan agar altenatif diwujudkan seperti menyediakan perkhidmatan klinik kesihatan di UH, khususnya pada hujung minggu.

    (h) Mahasiswa luar kampus

    • Menggesa kepada pihak universiti agar PUSPITA dihebahkan dan memperkasakan fungsi PUSPITA dakam menjaga kebajikan mahasiswa di luar kampus.
    • Mengadakan kerjasama dengan PUSPITA dalam menangani segala permasalahan dan kebajikan luar kampus.
    • Menggesa kepada PUSPITA agar menitikberatkan dan lebih prihatin terhadap keselamatan mahasiswa luar kampus
    • Mencadangkan kepada pihak universiti agar mewujudkan penempatan mahasiswa di luar kampus secara berpusat bagi menjamin keselamtan mahasiswa luar kampus.

    MENJANA KUALITI AKADEMIK DAN KEILMUAN

    (a) Pihak pentadbiran dan pengurusan universiti

    · Mengesa kepada pihak pentadbiran agar memastikan pegawai dan kakitangan melakukan kerja dengan cekap serta mesra pelajar, setaraf dengan status antara universiti terbaik di dunia

    · Mencadangkan kepada pihak pendbiran agar mengumunkan bajet tahunan dan laporan kewangan tahunan kepada semua warga universiti.

    · Tekankan aspek ISO 9002 dalam perkhidmatan selaras dengan pengsijilan yang diterima

    · Menggesa kepada pihak unversiti agar menilai kembali penjadualn waktu peperiksaan supaya tidak berlaku lagi masalah pertembungan subjek di kalangan mahasiswa.

    · Menggesa kepada pihak universiti supaya lebih menitikberatkan prasarana dan kemudahan pengajaran dan pembelajaran di semua falkuti.

    (b) Akademik dan keilmuan

    · Mencadangkan kepada pihak universiti agar meningkatkan kemahiran pelajar dengan pelbagai bahasa dengan menganjurkan kursus-kursus bahasa di universiti sebagai subjek bahasa pilihan.

    · Mencadangkan kepada pihak universiti agar meneteapkan bhahasa inggeris sebagai subjek wajib tetapi tanpa peperiksaan untuk menjemput tokoh-tokoh ilmuan dari universiti terkemuka dari luar Negara unutk sama-sama berdialog dan berdiskusi tentang aspek keilmuan dan intellectual.

    · Mencadangkan kepada pihak universiti agar mengadakan pertukaran pelajar ke luar Negara dengan usahasama universiti luar Negara( pelajar tahap akhir menghabiskan 1 sem atau bulan di unversiti luar Negara)

    MINGGU HALUANSISWA

    (a) Pengisisan dan pengedalian

    • Menggesa kepada pihak universiti agar menjalankan aktiviti dan program sepanjang MHS menjurus kea rah pembinaan sahsiah dan keperibadian generasi cermelang
    • Mendesak kepada pihak universiti dan kolej kediaman agar mengenakan tindakan yang tegas terhadap segala bentuk gejala negative
    • Menggesa kepad pihak universiti agar menghalang sebarang unsure dan mengambil prihatin serius terhadap unsur politik luar
    • Mendesak kepada pihak universiti agar lebihtelus dan adil dalam melakukan pemilihan PM
    • Menggesa kepada pihak universiti agar memilih PM yang intelek dan bersahsiah tinggi, berkerobadian mulia
    • Menggesa kepada pihak universiti agar memastikan PM tidak mengabaikan tuntutan agama dan tidak menbawa sebarang unsure negative kepada pelajar baru dan mengambil tindakan tegas kepada mereka yang tidak bertindak sedemikian

    (b) Cheers

    • Menggesa kepada pihak universiti agar mengkaji semula kerelevanan cheers mengikut konisi masa kini disadakan MHS
    • Menyarankan kepada pihak unversiti agar mengadakan cheers sebagai aktiviti sampingan dan lebih memawa unsure yang menberikan motivasi dan mewujudkan semagat perpaduan bukan semangat kepuakan

    FESKUM

    (a) Pengisian atau program FESKUM

    • Menyarankan kepada pihak universiti agar memastikan FESKUM ebas daropada unsure-unsur yang bertentangan dengan nilai-nilai murni dan inteltuai.
    • Menyarankan kepada pihak universiti agar mempamerkan kecemerlangan FESKUM dengan mencerminkan daya keinteletulan dan professional mahasiswa
    • Menyarankan kepada pihak universiti agar menganjurkan program-program menjana keintelektualan mahasiawa dan mengcungkil sreta meningkatan kemahiran mahasiswa
    • Menggesa kepada pihak universiti mengkaji semula keselamatan semula kelemahan feskum agar nama UM gah sebagai uniperdana di mata dunia.

    KESELAMATAN

    (a) Jalan Raya dan lalu lintas

    • Menyarankan kepada pihak pentadbiran universiti agar membina lampu isyarat di simpang empat antara perpustakaan, jalan keluar UM, fakulti kejuruteraan dan FPP bagi mengelakkan berlaku kemalangan dan menjamin keselamatan mahasiswa dan warga kampus.

    (b) Pegawai Keselamatan

    · Menyarankan kepada pihak universiti agar memilih dan menambahkan bilangan pegawai keselamatan yang berkualiti yang benar-benar dapat menjamin keselamatan UM dan keselamatan mahasiswa.

    · Menggesa kepada pihak universiti dan pihak keselamatan agar sentiasa bertanggungjawab mengawasi pekerja0pekerja kontraktor yang menjalankan kerja membaik pulih bangunan dan seumpamanya dalam kampus bagi menjamin keselamatan mahasiswa dan warga UM.


    (c)
    Keselamatan jalan sunyi

    · Menggesa kepada pihak universiti agar memasang lampu jalan di jalan sunyi dan gelap (laluan padang varsity) untuk menjamin keselamatan mahasiswa.

    MEMPERKASAKAN KUALITI MAHASISWA

    (a) Hak dan kebebasan berpersatuan, berorganisasi dan berkualiti

    · Menggesa kepada pihak pentadbiran universiti agar berlaku adil kepada semua persatuan dan tidak mengongkong dengan pelbagai kerenah birokrasi dalam setiap urusan samada dalam meluluskan program-program persatuan, layanan dan pemberian perunrukan kewangan.

    · Menyarankan kepada pihak pentadbiran universiti agar memberikan keutamaan kepada mahasiswa dalam sebarang pennggunaan kemudahan universiti untuk perlaksanaan program.

    · Menyarankan kepada pihak universiti agar tidak mengenakan cas bayaran k atas kemudahan digunakan oleh persatuan untuk menjalankan aktiviti seperti perkhidmatan bas, dewan dan seumpamanya.

    · Menyarankan kepada pihak HEP agar memastikan sebarang Annual Grand Meeting (AGM) bagi mana-mana persatuan hendaklah diadakan secara telus, adil, terbuka dan demokratik bagi memasitikan tiada penyelewengan berlaku.

    · Menggesa kepada pihak universiti agar menyediakan peruntukan wang yang berpatutan sebagai galakan mahasiswa untuk berorganisasi.

    (b) Hak dan Kebebasan bersuara

    · Menggesa kepada pihak universiti memberi dan menyediakan ruang mahasiswa menyatakan pandangan berkaitan isu dalam dan luar kampus.

    · Menyarankan kepada pihak universiti agar mengembalikan hak dan kebebasan mahasiswa berhimpun di dalam kampus secara aman bagi meyatakan pandangan dan pendapat tanpa sebarang sekatan dan tindakan tattertib universiti.

    (c) Hak dan kebebasan keterlibatan dengan pihak luar kampus

    • Berusaha memastikan segala aktiviti yang dijalankan di peringkat kampus dengan pihak atau badan luar tidak menpunyai unsure-unsur politik kerpatian dan juga aktivit yang mendatangkan gejala tidak sihat kepada mahasiswa.
    • Menggesa kementerian pengajian tinggi agar menmansurkan AUKU yang menyekat kebebasan pelajar untuk aktif dan berpersatuan.

    INTEGRASI KEPIMPINAN MAHASISWA

    • Menperkukuhkan kebersamaan pimpinan intra dan inter kampus bagi menangani sebarang permasalahan mahasiswa dan menpertingkatkan kualiti mahasiswa secara lebih berkesan.
    • Menyujudkan hubungan antarabangsa bagi membentuk kepimpinan intelek, matang dan berfikir global.
    • Menyatukan suara seluruh pimpinan mahasiswa dalam HELWA council bagi memperjuangkan hak dan keselamatan mahasiswa.

    PERPADUAN

    • Berkerjasama dengan pihak universiti dalam usaha menangani masalah polarisasi kaum yang wujud di kalangan mahasiswa kampus untuk mewujudkan perpaduan nasional
    • Memperkukuhkan integrasi mahasiswa malalui program-program seperti sukan dan kebudayaan

    Gerakan Mahasiswa Bersama Rakyat

    (a) Menaburkan Khidmat bakti kepada masyarakat

    • Mengembalikan peranan mahasiswa sebagai jurubicara masyarakat dalam menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan hak-hak masyarakat Membela dan memperjuangkan hak masyarakat dari segala bentuk kezaliman,penindasan dan penyelewengan

    (b) Memainkan peranan bersama kerajaan

    • Menyarankan kepada pihak kerajaan agar menerima dengan baik dan mempelbagaikan medium bagi mahasiswa menyampaikan idea dan pandangan kepada kerajaan dan masyarakat
    • Menyarankan kepada pihak kerajaan supaya menpertingkatkan kualiti forum mahasiswa bersama kerajaan seperti bicara siswa agar agenda yang diperbincangkan dapat membawa satu resolusi, satu anjakan paradigma bersama untuk kepentingan mahasiswa, masyarakat dan kerajaan serta Negara Malaysia

    Mahasiswa dan Globalisasi

    • Memperbanyakkan diskusi, forum, kempen dan dialog serta seminar kepada mahasiswa dan masyarakat bagi membangkitkan kesedaran dan keprihatinan terhadap isu-isu globalisasi terutamanya yang menyantuh sensitiviti umat islam dan kemanusiaan sejagat
    • Menyertai dan membantu kerajaan dan pihak-pihak berkuasa dalam menangani kes-kes jenayah dan moral dalam masyarakat
    • Menyertai kunjungan isi keamanan dan kebajikan kerajaan dalam membantu Negara-negara luar khususnya umat islam yang ditindas, di landa bencan alam dan seumpamanya
    • Mewujudkan hubungan dengan NGO luar yang menlibatkan mahasiswa dengan mengadakan program bersama bagi menjamin asa depan mahasiswa

    Hak Mahasiswa

    • Menggesa kepada pihak universiti agar mengambil langkah dan bertndak sewajarnya bagi mengatasi masalah gejala social di kalangan mahasiswa
    • Berusaha memberi kesedaran kepada mahasiswa agar mengambil berta dan sentiasa berpegang kepada kepentingan moral dan etika

    Hiburan dan Kebudayaan

    • Menggesa kepada pihak universiti agar menmastikan segala aktiviti yang berbentuk hiburan dan kebudayaan yang dianjurkan tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama
    • Menggesa kepada pihak universiti agar menyediakan satu garis panduan bagi mengadakan aktivit-aktiviti hiburan dan kebudayan
    • Menganjurkan program-program jatidiri untuk menyedarkan fungsi dan peranan mahasiswa bagi mengurangkan masalah hedonisme dan gejala social di kalangan mahasiswa

    Mahasiswa Menganggur

    • Menyarankan kepada pihak universiti agar menganjurkan seminar kerjay yang menlibatkan syarikat dan NGO yang mempunyai hubungan kerjasama dengan universiti kepada mahasiswa khususnya yang akan menaiki tahap akhir supaya mahasiswa boleh memilih dan mewujudkan hubungan awal dengan syarikat dan NGO yang sesuai agar menjamin masa depan dan kerjaya mahasiswa selepas graduasi.
    • Mengadakan bengkel-bengkel imej dan kemahiran seperti komunikasi, IT, pengurusan dan pentadbiran dan seumpamanya kepada mahasiswa agar ciri-ciri mahasiswa Universiti Malaya menepati keperluan dan kehandak semasa dalam pasaran kerjaya
    • Menyarankan kepada pihak universiti agar mengadakan hubungan kerjasama dengan palbagai syarikat dan NGO luar terutamanya milik bekas mahasiswa UM dan menjadi agen saluran dalam membantu siswazah mendapatkan kerjaya dan membekalkan tenaga kerja kepada syarikat dan NGO tersebut

    Penutup

    Semoga segala cita-cita serta azam yang di rencana dapat dilaksanakan dengan yang terbaik demi mewujudkan sebuah wawasan varsiti Malaya yang baru dari segala aspek yang meliputi pelbagai sudut demi kegemilangan Mahasiswa.

    SIAPAKAH ITU PRO-MAHASISWA?


    Siapakah itu PRO-Mahasiswa? Di sini saya masukkan satu pengenalan lengkap mengenai siapakah itu PRO-Mahasiswa, perjuangan yang dibawa serta pendokong-pendokongnya...

    Siapa PRO- MAHASISWA?

    Mereka adalah kelompok-kelompok anak muda progresif bergelar mahasiswa yang mempunyai kesedaran sosial dan politik yang tinggi serta mempunyai inisiatif dalam memperjuangkan idealisma dan kebajikan mahasiswa.Melalui semangat dan inspirasi tersebut, mereka membentuk suatu jaringan pemikiran dan perjuangan bagi bertujuan mengembalikan keunggulan dan kegemilangan kepimpinan mahasiswa beridealisma, bebas, intelek dan progresif di kampus UniPerdana. Jaringan inilah yang digelar jaringan PRO-MAHASISWA!

    Mengapa PRO-MAHASISWA?

    Mereka menggelarkan diri mereka sebagai PRO-MAHASISWA adalah didasarkan kepada bentuk atau tema kepada perjuangan mereka. PRO-MAHASISWA bermaksud sebuah jaringan atau kelompok yang membawa dan memperjuangkan suara mahasiswa yang asli(genuine) dan bebas. Suara mahasiswa yang tidak menyebelahi mana-mana pihak di luar kelompok mahasiswa samada dari pihak kerajaan, pembangkang, dan juga bukan mewakili pihak pentadbiran universiti. Hanya semata-mata suara, idea, inspirasi, semangat,, keluhan, dan keprihatinan daripada MAHASISWA! Dari MAHASISWA untuk MAHASISWA!

    Sejarah PRO-MAHASISWA.

    PRO-MAHASISWA merupakan jaringan kelompok-kelompok mahasiswa yang mempunyai idealisma dan membawa tema perjuangan mahasiswa. Sebelum ini mereka dikenali sebagai ‘GAGASAN’. ‘GAGASAN’ yang mana pertubuhan yang menghimpunkan kelompok-kelompok mahasiswa beridealisma telah memegang tampuk kepimpinan mahasiswa Universiti Malaya hampir 8 tahun sejak tahun 1996 sehingga 2003. Di dalam tempoh kepimpinan ini banyak rekod-rekod cemerlang telah ditunjukkan oleh kelompok ini misalnya memperjuangkan kewujudan sistem pendaftaran subjek secara online, pendaftaran pelajar baru yang dipusatkan di DTC, memperjuangkan kemudahan pengangkutan awam di Universiti Malaya dan lain-lain lagi. Malahan pada ketika inilah Universiti Malaya telah tersenarai antara 100 universiti terbaik di dunia. Pada tahun 2004 kelompok ‘ GAGASAN’ telah memboikot proses pilihanraya kampus yang dilihat sudah tidak demokratik dan adil. Setelah itu pada tahun 2005 dan 2006 mereka kembali berusaha untuk kembali memimpin mahasiswa dengan penyertaan dalam pilihanraya kampus walaupun sistem pilihanraya kampus masih lagi belum dipulihkan. Kini ‘ GAGASAN’ muncul dengan wajah baru yang lebih progresif, intelek, responsif, dan berani iaitu dengan nama PRO-MAHASISWA!

    SLOGAN PRO-MAHASISWA.

    WE LOVE UM! – iaitu perjuangan untuk memartabatkan dan meningkatkan kecemerlangan dan keunggulan Universiti Malaya sebagai Universiti Perdana melalui semangat CINTAKAN universiti.

    NEW GENERATION FOR NEW UM – bertujuan melahirkan generasi mahasiswa UM yang mempunyai corak pemikiran, dan inspirasi perjuangan yang lebih segar, bebas, demokratik, dan maju yang mana mereka akan mampu mencorakkan suasana dan prestasi universiti ke arah yang lebih baik dari sudut akademik dan sosio-politik.

    STUDENT POWER! – slogan keramat yang melambangkan bahawa mahasiswa merupakan kelompok yang mampu berperanan secara efektif dan berkuasa mencetuskan arus perubahan untuk memperbaiki keadaan masyarakat samada di kampus ataupun masyarakat di luar.

    FRONT-FRONT PENDOKONG PRO-MAHASISWA

    1. Persatuan Mahasiswa Islam Universiti Malaya (PMIUM)
    2. University Malaya National Youth (UMANY)
    3. Komuniti Mahasiswa Kerinci ( KMK)
    4. Persatuan Bahasa Cina Universiti Malaya (PBC)
    5. Persatuan-persatuan Anak Negeri:-

    - Persatuan Mahasiswa Kedah ( PEMADAH)

    - Persatuan Mahasiswa N. Sembilan ( PEMANIS)

    - Persatuan Mahasiswa Perak ( PEMARAK)

    - Persatuan Mahasiswa Kelantan ( PMK)

    - Perstauan Mahasiswa Terengganu ( PERMATA)

    Imej PRO-MAHASISWA.

    INTELEK – Bertindak berdasarkan hujah yang benar dan tepat serta sentisa analisis dan kritis dalam menilai sesuatu keadaan dan fakta. PRO-Mahasiswa juga memperjuangkan kebebasan akademik di UM.

    RESPONSIF – sentiasa peka, sensitif serta mempunyai inisiatif dalam isu-isu yang berhubung dengan keintelektualan, kebajikan, dan kemaslahatan mahasiswa.

    ENERGETIK – sentiasa lantang, bersemangat, aktif, tangkas, dan cergas dalam bertindak dan memperjuangkan isu-isu berhubung mahasiswa.

    Logo PRO-MAHASISWA

    - mempunyai slogan utama PRO-MAHASISWA – ‘We Love UM’ & ‘ New Generation For New UM’

    - gambar mahasiswa - mengangkat sebelah tangan - melambangkan imej perjuangan PRO-MAHASISWA – intelek, responsive, energetik.

    - Gambar mahasiswa di sisi lambang UM – simbol perjuangan mahasiswa memartabatkan kecemerlangan dan keunggulan Universiti Malaya

    Ikon PRO-MAHASISWA.

    - walaupun agak menyerupai ikon ‘MAT GEMPAK’ tetapi ia masih mengekalkan imej yang melambangkan tema-tema perjuangan pro-mahasiswa seperti intelek ( memakai topi graduate dan berkaca mata), responsif ( sentiasa mempunyai pendapat kritis dan respon mengenai isu semasa kampus – di dalam edisi mahasiswa), dan juga energetik (gaya, kasut sukan dan baju yang santai).

    Monday, September 24, 2007

    TIGA TAHUN MEMIMPIN MAJLIS PERWAKILAN MAHASISWA UNIVERSITI MALAYA, MASIH RELEVANKAH ASPIRASI?



    Berdasarkan Perlembagaan Universiti Malaya berkaitan Majlis Perwakilan Mahasiswa kurungan sepuluh (10), tujuan dan fungsi persatuan ialah untuk memupuk semangat hidup sebagai suatu persatuan di kalangan pelajar-pelajar Universiti; tertakluk kepada arahan Naib Canselor untuk merancang dan menyelia kemudahan-kemudahan rekreasi, aktiviti-aktiviti kerohanian dan keagamaan, dan bekalan makanan dan minuman; untuk membuat represantasi kepada Naib Canselor tentang segala perkara berhubungan atau berkenaan dengan keadaan tempat tinggal dan kehidupan pelajar-pelajar Universiti; untuk diwakili dalam mana-mana badan yang boleh, mengikut kaedah-kaedah yang dibuat oleh Lembaga bagi maksud itu, dilantik untuk menjalankan aktiviti-aktiviti kebajikan pelajar di Universiti; dan untuk menjalankan apa-apa aktiviti lain yang ditentukan oleh Lembaga dari semasa ke semasa. Secara ringkas dan mudahnya tujuan MPMUM ialah memupuk kebajikan am badan mahasiswa, memajukan kegiatan sosial, kebudayaan dan mengadakan hubungan rasmi dengan badan lain. Ia adalah badan pelajar yang diberikan kuasa untuk mewakili mahasiswa dalam semua perkara yang menyentuh kepentingan mahasiswa dan diakui sebagai suara rasmi pelajar oleh pihak Universiti Malaya.

    Berdasarkan tujuan dan fungsi yang telah ditetapkan ini MPMUM selaku sebuah persatuan induk yang memimpin mahasiswa kampus mempunyai fungsi dan peranan yang sangat besar dalam merealisasi dan melaksanakan tugas dan peranan tersebut. MPMUM atau dahulunya dipanggil PMUM (Persatuan Mahasiswa Universiti Malaya) dan sebelumnya dipanggil UMSU (University of Malaya Student Union) ketika ditubuhkan pada tahun 1958 merupakan pengasas kepada pergerakan mahasiswa di negara ini. Ia mempunyai kedudukan yang istimewa di mata masyarakat kampus dengan mendominasi dan mengetuai pergerakan serta perjuangan mahasiswa negara selama empat dekad. Akan tetapi peranan dan fungsi yang sepatutnya disambung dan dimainkan oleh MPMUM ini gagal dilaksanakan khususnya selepas pihak yang menggelarkan diri mereka Aspirasi memegang tampuk kepimpinan MPMUM selepas isu pemboikotan oleh Gagasan Mahasiswa Universiti Malaya pada tahun 2004.

    Kepimpinan MPMUM pada sesi-sesi seterusnya terus lena dibuai mimpi sehingga menyebabkan gerakan mahasiswa yang sebelum ini digerakkan oleh MPMUM dilihat sepi dan kebajikan mahasiswa yang sepatutnya dijaga terabai. Segala gerak kerja dan program yang dilaksanakan dicorakkan oleh pihak Hal Ehwal Pelajar manakala pimpinan hanya menjadi pelaksana semata-mata. Mereka tidak kreatif dan kritis untuk berfikir mengenai apakah tanggungjawab dan peranan yang sepatutnya mereka laksanakan selaku pemimpin mahasiswa dan hanya menjadi tukang angguk, tunduk dan patuh kepada apa sahaja kehendak pihak atasan. Manifesto yang dilaungkan semasa kempen hanya retorik semata-mata. Selidik dan tinjau kembali manifesto yang mereka bentangkan dan bandingkan dengan apa yang telah mereka laksanakan dalam satu sesi kepimpinan mereka, anda akan mendapat jawapannya.

    Salah satu aspek penting yang perlu diperjuangkan oleh MPMUM sesuai dengan peranan yang telah ditetapkan di dalam perlembagaan Universiti adalah berkaitan dengan soal kebajikan mahasiswa. Jika dilihat saban tahun isu kebajikan mahasiswa ini semakin terabai dan MPMUM selaku wakil rasmi mahasiswa langsung tidak berbuat apa-apa bagi menyelesaikannya. Isu penginapan mahasiswa di kolej kediaman merupakan isu yang telah lama dibangkitkan oleh beberapa kelompok mahasiswa yang prihatin tetapi ia dipandang sepi oleh MPMUM. Mereka yang menginap di Kolej Kediaman Kesembilan dan Kesepuluh sebagai contoh tinggal dalam keadaan tidak selesa dan sempit kerana kuota penginapan dalam satu-satu bilik melebihi jumlah yang telah ditetapkan. Adakah MPMUM telah mengadakan pertemuan dengan pihak pengetua bagi membincangkan permasalahan ini? Dan adakah mereka melaporkan masalah ketidakselesaan mahasiswa ini kepada pihak Timbalan Naib Canselor HEP atau Naib Canselor sendiri? Apakah sudah diadakan satu kajian dan survey khusus bagi mengkaji sejauh mana penghuni kolej selesa dengan kolej yang mereka diami atau terpaksa menghuni di sana kerana tiada tempat tinggal yang lain? Bagaimana pula dengan mahasiswa yang dibuang kolej kerana dikatakan menentang kehendak mereka? Ada yang sudah terpaksa meninggalkan kolej kediaman walaupun baru sahaja menginap dalam satu semester. MPMUM selaku badan yang memimpin golongan cerdik pandai sepatutnya membantu menyelesaikan masalah ini dengan seadilnya tanpa pilih kasih. Semua ini perlu dilaksanakan oleh pihak MPMUM bermula dari pengenalpastian punca masalah sehinggalah memastikan segala permasalahan ini selesai.

    Selain itu, isu yuran kolej yang dikatakan agak tinggi juga diabaikan oleh pihak MPMUM. Mahasiswa yang dibebankan dengan hutang PTPTN dan kadar bunga tiga persen yang dicajkan kepada mereka juga tambah terbeban dengan kos yang terpaksa ditampung. Apakah mereka menerima segala aduan ini dan jika ya apakah jalan penyelesaiannya? Setakat ini pihak yang berperanan aktif dalam memperjuangkan isu ini ialah Persatuan Mahasiswa Islam Universiti Malaya (PMIUM). Mereka telah menghantar memorandum kepada Timbalan Naib Canselor HEP dan mengadakan pertemuan bersama beliau, mengadakan sesi perbincangan bersama Naib Canselor dan memanjangkan isu ini kepada pihak Bendahari UM. Surat juga dihantar kepada tiga belas pengetua kolej kediaman yang mendesak supaya yuran kolej diturunkan. Soal berjaya ataupun tidak adalah soal kedua, usaha yang perlu diutamakan. Kita belum melihat segala gerak kerja ini dilaksanakan oleh pihak MPMUM yang sepatutnya melaksanakan segala gerak kerja ini sejak dari awal kepimpinan mereka. Satu perkara yang perlu difahami oleh pihak MPMUM bahawa mereka bukan setakat persatuan yang menganjurkan program semata-mata tetapi mempunyai tugas dan peranan yang lebih besar. Penganjuran program merupakan kegiatan kedua selepasmana segala isu kebajikan ini ditangani dan dikendalikan secara bijaksana dan bersistematik. Mahasiswa mengundi mereka bukan untuk menghadiri program yang diajurkan tetapi agar soal kebajikan mereka terjamin.

    Pihak MPMUM dalam tiga tahun kebelakangan ini juga dilihat sama sekali gagal dalam memperjuangkan nasib dan soal kebajikan mahasiswa luar kampus. Mereka gagal untuk menggerakkan PUSPITA walhal hampir separuh dari jumlah mahasiswa UM tinggal di luar kampus. Jika ada gerak kerja yang dilakukan sekalipun hanyalah dengan membuka aduan masalah tanpa ada penyelesaiannya. Mereka yang berada di luar kampus sebenarnya berhadapan dengan pelbagai masalah yang perlu dihadapi. Pengangkutan merupakan masalah utama terutamanya kepada mahasiswi. Mereka juga berhadapan dengan ancaman bahaya bila-bila masa khususnya bagi yang tinggal di kawasan hitam seperti di Pantai Dalam. Isu penipuan rumah sewa, kos sewa yang tinggi, kecurian motorsikal dan menginap beramai-ramai dalam satu rumah adalah antara masalah yang dihadapi. Persoalan di sini adalah sejauhmana sumbangan yang mereka lakukan bagi menangani permasalahan ini? Memang diakui bukan mudah untuk menyelesaikan segala perkara namun biarlah ada satu isu yang ditangani. Namun sehingga kini ia tinggal sepi, sesepi PUSPITA yang terkubur. Mujurlah Naib Canselor sedar tentang kebajikan mahasiswa luar kampus ini. Hasilnya beliau akan melantik seorang pengetua bagi mahasiswa luar kampus seperti mana pengetua di kolej-kolej kediaman. Kita tunggu sahaja apakah peranan dan tugas yang boleh dimainkan oleh pengetua tersebut selepas MPMUM gagal memainkan peranannya.

    Gejala sosial merupakan penyakit yang kian membarah di kalangan mahasiswa. Penyakit inilah yang dilihat memundurkan daya intelek mahasiswa, membuahkan kesan hedonisme dan menjatuhkan maruah mahasiswa selaku golongan cerdik pandai dalam masyarakat. Battle of the Band, pertandingan nyanyian dan tarian, pertandingan cheers semasa minggu haluan siswa dan stupid debate adalah antara kegiatan yang dianjurkan setiap tahun dengan restu MPMUM. Program-program ini jika dilihat secara wajar dan rasionalnya langsung tidak sesuai dengan jatidiri mahasiswa universiti, tidak melambangkan keintelektualan serta tradisi kecemerlangan Universiti Malaya. Melalak dan melaung sepanjang malam diselangi dengan sorakan penonton adalah antara suasana biasa apabila program hiburan seperti Battle of The Band dianjurkan. Dalam Haluan Siswa pula mahasiswa tahun pertama dipaksa menari, melompat dan terkinja-kinja sehingga ke pukul tiga pagi sehingga melupakan mereka kepada waktu solat. TNC HEP dalam pertemuan dengan PMIUM mengakui bahawa program MHS yang dianjurkan ini tidak memasukkan waktu solat dalam jadual mereka. Bagaimanakah MPMUM boleh bersetuju dengan program sebegini? Isu stupid debate yang dianjurkan semasa Minggu Interaksi juga memaparkan betapa rendahnya nilai pemikiran mahasiswa. Perkara yang dibincangkan berbaur lucah, sembang kosong dan membuang masa tanpa ada sebarang manfaat sekalipun. Dan sekali lagi MPMUM masih berdiam diri walaupun segala aktiviti ini dikecam oleh masyarakat dan mendapat liputan meluas media. Pihak MPMUM selaku badan mahasiswa yang berautoriti sepatutnya membantah program dan kegiatan sebegini bukan turut sama menyertainya.

    Pernahkah mereka membentangkan cadangan mengenai peraturan moral (moral code) kepada pihak pentadbiran universiti bagi menangani kepincangan moral yang berlaku? Mahasiswa kini tanpa segan silu berkelakuan sumbang, berpakaian menjolok mata, mengamalkan seks bebas, terlibat dengan kegiatan tidak bermoral dan banyak lagi. Adakah terdapat inisiatif di peringkat mereka bagi menangani segala punca kepada gejala sosial ini? Semua ini perlu dijawab secara jujur oleh barisan kepimpinan MPMUM tajaan Aspirasi.

    Pihak MPMUM seharusnya juga berperanan penting memberi kesedaran kepada mahasiswa melalui program dan kegiatan bercorak akademik, ilmiah serta mampu merangsang minda mahasiswa. Kesedaran yang dicetuskan ini pula adalah luas seluas peranan mahasiswa itu sendiri. Kesedaran keagamaan, kesedaran politik dan hal ehwal semasa dan kesedaran kepada hak dan kebajikan mereka perlu diperjelas dan diperjuangkan. MPMUM sepatutnya menganjurkan program-program seperti forum agama, ceramah umum, bicara politik, sudut pidato dan debat ilimiah bukannya menganjurkan aktiviti-aktiviti hiburan yang melalaikan. Mereka juga sepatutnya menjadi jurubicara mahasiswa dalam memberi respons secara aktif dalam isu-isu yang berlaku sama ada di peringkat nasional mahupun anatarabangsa. Kita belum nampak apakah pendirian MPMUM terhadap beberapa isu yang berlaku di dalam dan luar negara. Mereka sangat pasif dan tidak mampu mengeluarkan pandangan dan pendirian sendiri. Segala apa yang dilakukan oleh kerajaan walaupun negatif diterima tanpa menganalisa dan menyelidikinya secara mendalam dan terperinci. MPMUM seharusnya mewakili mahasiswa UM dan duduk di barisan paling hadapan dalam menyuarakan pandangan dan pendapat ke atas sesuatu isu. Mereka sepatutnya menjadi orang yang paling hadapan keluar membela umat Islam, memberi respon bermanfaat bagi menjayakan pelan pendidikan IPT, melakukan desakan dan rundingan secara berkala bagi menyelesaikan masalah PTPTN dan sama-sama membantu kerajaan memberi idea dan pandangan bagi membangunkan negara. Namun apa yang dilihat mereka sama seperti mahasiswa lain yang langsung tidak mahu mengambil kisah tentang apa yang berlaku di sekeliling mereka.

    Apa yang perlu difahami ialah ruang lingkup kegiatan MPMUM tidak hanya terbatas kepada persoalan di dalam kampus semata-mata tetapi perlu menjangkaui kepada soal politik, ekonomi dan kebajikan rakyat di negara ini. Merekalah seharusnya memimpin arus gerakan mahasiswa, berani mencabar, bijak berunding dan aktif menyuarakan pendapat dan pandangan dalam sesuatu isu dan perkara. Akan tetapi hal yang sebaliknya berlaku. MPMUM untuk sesi kali ini dilihat jelas sangat lemah. Cuba hitungkan berapa ramaikah exco MPMUM yang benar-benar bekerja dan memberi komitmen yang sepatutnya? Berapa ramaikah di kalangan exco MPMUM yang melaksanakan bidang tugas dan portfolio mereka? Dan apakah visi dan misi yang mereka gariskan berada pada landasan matlamat yang betul atau ia hanya satu peribahasa untuk mencantikkan poster? Lihat sahaja keadaan yang berlaku di sekretariat MPMUM. Ia langsung tidak terurus dan diselia dengan baik. Lif yang ada rosak sedangkan kos pembinaannya memakan belanja yang tinggi, meja banyak terbiar, kotor dan berhabuk, siling berlubang-lubang serta banyak lagi kerosakan yang dikesan. Mereka sebenarnya hanya perlu melaporkan tentang keadaan tersebut dan membuat beberapa desakan berhubung permasalahan ini tetapi ia dibiarkan sehingga sekretariat tidak ubah seperti sebuah rumah usang yang ditinggalkan.

    Sebagai kesimpulannya, sepanjang tiga tahun Aspirasi memegang tampuk MPMUM mereka dilihat gagal dalam memainkan peranan selaku wakil kepada mahasiswa di kampus. Mereka gagal memimpin mahasiswa, mengabaikan soal kebajikan dan tidak mampu melaksanakan tugas yang telah dipertanggungjawabkan. Mereka juga gagal berperanan dalam membangunkan proses pembinaan bangsa, memberi sarana yang bernas kepada kerajaan dan menjadi suara ketiga kepada masyarakat. Oleh hal yang demikian, mahasiswa perlu kembali bangkit memilih mahasiswa yang benar-benar mampu berperanan dalam Majlis Perwakilan Mahasiswa Universiti Malaya. Mahasiswa harus bijak membezakan perkara-perkara yang telah dijelaskan di atas walaupun ia diterangkan secara umum. Ini kerana isu-isu yang dijelaskan adalah bersifat selektif daripada sekian banyak isu yang berlaku di kampus. Pihak pentadbiran dan mahasiswa perlu melihat pilihanraya kampus sebagai sangat penting dalam memilih kepimpinan yang berkualiti. Ini kerana MPMUM dilihat antara wadah utama untuk melahirkan secara berterusan individu yang berkecekapan dan berkemahiran tinggi yang dilengkapi dengan kualiti kepemimpinan dan kemahiran antara perorangan yang baik seperti yang telah ditetapkan oleh pihak pentadbiran.

    [ANGKATAN MAHASISWA SEDAR UM]

    Sunday, September 23, 2007

    KEPINCANGAN MAHASISWA KINI

    Mahasiswa seringkali diistilahkan sebagai golongan cerdik pandai yang memerah keringat dimedan ilmu. Golongan ini, sememangnya mendapat kedudukan istimewa dalam masyarakat . Pada pundak mereka tergalas impian dan harapan dalam mencorak kepimpinan Negara pada masa hadapan seterusnya menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Acapkali kedengaran kelantangan mahasiswa bersuara dalam mencanang ilmu dan buah fikiran seringkali mencuri tumpuan umum sekaligus menggambarkan gahnya status yang diberikan kepada golongan intelektual ini. Hakikatnya itu hanya dahulu dan realiti sekarang adalah sebaliknya. Gahnya status mahasiswa hanya terletak pada nama. Mahasiswa pada hari ini disifatkan sebagai lesu dan kehilangan arah. Mahasiswa pada hari ini berdepan dengan pelbagai permasalahan dan kontrovesi yang tidak berkesudahan. Paling menyedihkan apabila kepincangan ini seringkali dikaitkan dengan pelajar- pelajar Melayu berbanding dengan bangsa lain. Secara tidak langsung polemik yang tercetus ini mengundang kebimbangan dan perdebatan dikalangan golongan cendekiawan.

    Golongan mahasiswa kini dilihat semakin kurang daya kepimpinan, tahap keilmuan dan tidak dapat memenuhi kehendak pasaran. Sebaliknya kebejatan gejala social yang menghambat golongan remaja dewasa ini turut melibatkan golongan 'cerdik pandai' ini. Mahasiswa hari ini lebih banyak bertumpu kepada hiburan yang melampau menggambarkan seolah- olah budaya hadonisme ini semakin menjalar di kampus- kampus. Konsert, pesta dan fiesta semakin mencuri perhatian golongan ini berbanding dengan program- program yang melambangkan kentelektualan. Budaya ilmu dikalangan mahasiswa semakin lenyap. Sedangkan mereka seharusnya menyangjung tinggi nilai dan budaya ilmu. Diskusi ilmiah, perdebatan, forum dan ulasan buku bukan lagi aktiviti ilmiah yang menjadi aktiviti 'favourite' dikalangan mahasiswa. Kalaupun ada yang menghadirinya hanyalah sebilangan kecil. Budaya ilmu ini dipupuk apabila seseorang mahasiswa merasai kenikmatan belajar. Kalau mereka tidak rasa kenikmatan itu sebaliknya sekadar memaksa diri untuk mendapatkan sijil bagi mencari kerja, kemungkinan berlaku pencapaian rendah adalah lebih besar.

    Selain itu, kegagalan mereka menempatkan diri dalam pasaran pekerjaan seringkali dikaitkan dengan kurangnya kepimpinan dalam diri. Kalau dahulunya golongan ini seringkali mendapat keutamaan bagi mengisi kekurangan dalam sektor pekerjaan tetapi pada hari ini mereka terpaksa berhempas pulas bersaing dengan golongan yang berpendidikan rendah daripada mereka. Meskipun saban tahun berpuluh- puluh ribu graduan dilahirkan di IPT dalam dan negara namun mereka masih belum dapat memenuhi keperluan pasaran dan secara tidak langsung menambahkan angka graduan menganggur. Mahasiswa hari ini meskipun banyak dari segi kuantitinya namun dari sudut kualitinya seolah- olah di tahap yang sama. Justeru, ilmu kepemimpinan perlu dilengkapi supaya kelak mereka akan dilihat lebih istimewa dan memiliki kelebihan berbanding mahasiswa yang lain. seterusnya menjadi pemimpin yang berkaliber dan berkarisma. Ini secara langsung menggambarkan betapa pentingnya generasi muda yang merupakan pewaris pemerintahan negara dan kemestian agar mereka dibentuk melalui proses kepemimpinan. Pelajar perlu melengkapkan diri dengan kemahiran lain agar dapat menghadapi persaingan dunia luar yang lebih mencabar.Mahasiswa perlu memiliki ketrampilan, sahsiah dan jati diri cemerlang agar aspirasi negara untuk melahirkan generasi pelapis kepimpinan negara terlaksana.

    Mahasiswa dilengkapi dengan prasarana, alat bantu, dan persekitaran yang menyuburkan budaya ilmu dan kegiatan keintelektualan mereka. Budaya membaca, menyelidik, berdiskusi, menyatakan pandangan, berhujah, menulis, dan pelbagai lagi kegiatan keilmuan dan keintelektualan menjadi budaya yang hidup subur di kalangan mahasiswa. Budaya inilah yang telah membentuk jati diri, karektor, dan peribadi mahasiswa yang unggul dan seimbang. Mahasiswa mempunyai tanggungjawab terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, persekitaran, ilmu yang dipelajari, negara, bahkan dunia secara amnya. Tanggungjawab dan kewajipan ini adalah amanah yang mesti ditunaikan. Hanya mahasiswa yang memiliki jiwa besar, berfikiran matang dan berpandangan jauh mampu menyempurnakan tanggungjawab mereka dengan baik.

    AR-RUSYDAN..